RSS

Kiluan Part II! : Tanjakan, Turunan, Kelokan Menuju Kiluan.

10 Jun

17 Mei 2012..

…And the adventure begin. Tepat pukul 20.00 sampai stasiun Gambir dan cari-carian sama Melvi yang entah kenapa nunggu di pintu sebelah mana sementara Damrinya ada di mana *sigh* . Setelah menjadi bulan-bulanan karena membawa koper DAN BACKPACK pada saat ke Karimunjawa, I thought she learnt… But there she was with her old backpack, strolling EVEN BIGGER suitcase *sigh*. In fact she did learn something from our trip back then, but the lesson was a whole lot different from what  we’ve tried to teach. Menurut dia, justru dia belajar bahwa membawa backpack besar selain koper (yang juga besar) itu penting karena pada akhirnya backpacknya itu yang berjasa sebagai tempat penitipan barang2-barang kami saat bermain dan tas-tas ditinggalkan di penginapan. Iya juga sih *skak mat*.

Tepat pukul 21.00, Damri kami berangkat dari Gambir. Woooowww Damri kelas eksekutif itu nyaman yah! *norak, maklum baru pertama kali naik* reclining seat dengan space yang luaaaas, plus selimut dan bantal. Sebelum pukul 00.00 kami sudah naik ke kapal ferry, dengan membayar ekstra Rp.8000 masuk ke kelas eksekutif dengan kursi yang lebih nyaman dan ruangan ber-AC bebas rokok. Kapal ferry ini jauh lebih besar dari KM. Muria yang kami naiki ke Karimunjawa, tapi ternyata gerakan ombaknya cukup terasa ya. Lupa membawa antimo (obat anti mabok untuk molor) jadi ya dinikmati saja lah, paling tidak untuk kali ini pemandangan di depan dan belakang bukanlah gundukan kelapa dan pisang 😀 tapi televisi yang memutar entah film apa dibintangi Jacky Chan.

Pukul 03.00, tanpa peluit panjang yang menandakan kapal akan berlabuh (atau mungkin ada tapi ga kedengeran karena saya ketiduran?) penumpang sudah dipersilahkan untuk kembali ke kendaraan masing-masing. We Meet Again Sumatera!! Bus sempat berhenti di restoran dan sempat GR bakal dikasih late dinner tapi tiket 150ribu ternyata cuma cukup untuk snack sepotong roti dan segelas air mineral sodara2 *ya menurut nganaaaa???!*

Pukul 05.00 kami akhirnya sampai di Stasiun Tanjung Karang Bandar Lampung, dan yang jemput kesiangan doooonkkk, baru bisa sampai jam 7, untung ada warung nasi yang sudah buka (atau memang ga pernah tutup?). Daripada ga jelas, yuk ngopi2 dan liburan juga belum lengkap tanpa makan Pop Mie :’).

Oya, soal jemputan dari Bandar Lampung ke Kiluan, ini lah masalah kami yang kedua :D. Karena keterbatasan sinyal selama saya tugas di luar kota beberapa hari sebelumnya, Kamis pagi a.k.a beberapa jam sebelum berangkat ke Kiluan saya baru menghubungi Kang Tatang, contact person kami dari @KiluanDolphin. Tapi, bagai petir di siang bolong *halah* Kang Tatang mengabarkan kalau dia tidak bisa menyediakan transportasi dari Bandar Lampung ke Kiluan *JEGERRRR*. Ya itu tadi, berhubung kami berlibur di luar jadwal normal saat yang lain sudah sampai di Kiluan kami baru akan berangkat dari Jakarta *getok Melvi*. Masih untung saya menghubungi Kang Tatang saat dia masih di Bandar Lampung, kalau sudah sampai di Kiluan ya wassalam entah bagaimana nasib kami karena di Kiluan tidak ada sinyal. Mau dibatalin? nanggung lah… akhirnya kami menyewa 1 mobil berikut sopir, rekomendasi dari Kang Tatang juga, untuk mengantarkan kami ke Kiluan, dengan kesepakatan harga paket tour dikurangi. Oh baiklah… ongkosnya memang jadi lebih mahal karena kami menyewa 1 mobil hanya untuk berdua, tapi daripada nggak berangkat!

Jam 07.00, Pak Toni dan APV burgundy nya datang, selain kami ternyata masih ada 2 mobil lagi yang masih menunggu tamu dari Palembang sama-sama akan menuju Kiluan tapi ke homestay yang berbeda. Bandar Lampung sepertinya kota yang menyenangkan yah?! (yaaaa paling tidak lebih menyenangkan dari Jakarta, IMO), jalanan lengang, dan hampir disetiap pintu bangunan dihiasi oleh Siger (lambang Lampung, semacam mahkota yang digunakan oleh pengantin wanita Lampung) baik gambar maupun bentuk tiga dimensional. Bahkan sebenarnya waktu merapat di Bakauheni bisa terlihat ikon wisata Lampung yang juga merupakan titik nol Sumatera di bagian selatan, Menara Siger, tapi kami gak lihat sih :P. Bentuknya seperti ini.

Menara Siger, Bandar Lampung. Copyright http://www.wijananko.nett

Kalau Siger dalam bentuk aslinya pernah lihat di pernikahan teman yang memakai adat Lampung, cantik, tapi berat yah sepertinya XD.

Makin jauh meninggalkan kota pemandangannya lebih menyegarkan mata, pohon-pohon besar, sawah, perkebunan coklat, bukit barisan, tambak udang, pantai… Ya, kira-kira satu jam setelah perjalanan, mobil melewati pantai yang menurut Pak Toni bernama Klara alias Klapa Rapet *aeh maksa*

Airnya bening walau tidak terlihat gradasi biru hjau yang saya cinta, pasirnya tidak terlalu putih tapi halusss, tapi sayang garis pantainya sempit.

Di Klara

Untuk masuk ke pantai Klara harus membayar karcis, tapi kami masuk di area yang tidak dipagari, jadi gratis :D. Di tempat yang dipagari (berbayar) berjejer saung-saung yang disewakan dengan harga Rp. 25.000.

Perjalanan masih panjang!

Lanjut, kami melewati perkampungan nelayan, dengan rumah2-rumah panggung di tepi dermaga. Look, bukit-bukit hijau dan perkebunan macam itu yang kami lewati sepanjang perjalanan, gimana gak bikin mata segar?! Juga melewati tambak udang yang sedang dibangun. Sebagai anak Jakarta yang ga pernah lihat beginian, wajib lah turun dan foto2 (Ini kapan sampainya di Kiluan?! XD).

Menuju Kiluan. Perkampungan nelayan – Pembangunan tambak udang

Lanjut perjalanan, kami memasuki jejeran rumah panggung dan hamparan bijih coklat yang sedang dijemur. Dan disinilah offroad dimulai…. Jarak antara Bandar Lampung – Kiluan sebenarnya hanya sekitar 70 km, tapi terasa berat karena medan dari desa Bawang menuju Kiluan itu rusak parah =$. Lubang dimana-mana, tanjakan turunan, tebing di pinggiran =D. Kalau sebelumnya sempat mbatin ‘mahal juga yah sewa mobilnya” tapi setelah melihat medannya jadi pengen bilang “eh pak serius ini harga sewanya sebanding ama biaya perawatan mobil??! ganti ban?? belum kalo baret2??! di Jakarta mana ada rental yang mau??!!” Tapi gak jadi karena khawatir Pak Toni jadi beneran ngitung 😛 sementara susah ceu cari ATM disana… *ngeles jaya*. Menurut Pak Toni, jalan itu sudah lebih bagus dibandingkan beberapa tahun lalu (o_O”).

Kurang lebih jam 11, sampailah kami di Gerbang Kiluan. Tentunyalah foto2 lagi 😀 dan saking asiknya…perlu Pak Toni ngomong “liat itu di belakang kalian” untuk sadar…..

Selamat Datang di Teluk Kiluan….. capek yah?? gak dong kalo udah liat di belakang ada apa.. =D

….capek 12 jam terbayar di sini 🙂 Teluk dilihat dari atas.

Dari sini jalanan turuuuuun tajam, melewati sungai kecil, jembatan kayu.. 😀 gokil! Tapi pemandangan unik yang paling tidak terduga adalah, kami melewati perkampungan Bali, lengkap dengan pura dan rumah dengan arsitektur khas Pulau Dewata karena memang da sekitar 30an KK transmigran dari bali. Setelah mampir sebentar ke perkampungan nelayan akhirnya tiba lah kami di basecamp Anak Abah. Sampai?? Eits, beluuuummm… Rumah yang masih dalam tahap pembangunan ini cuma tempat singgah buat para tamu, pondoknya sendiri di seberang. Di perkampungan nelayan ini saya melihat beberapa guesthouse sih, tapi sayang sepertinya kurang terawat :(. Kurang lebih 10 menit kemudian, perahu kami yang biasa disebut jukung itu datang… and here was the freaking out moment! :D.

Iya sih sebelum berangkat udah konsultasi sama mbah Google dan melihat gambarnya itu jukung, dan juga sebenarnya pernah naik di Lovina, tapi at that moment dengan kondisi barang bawaan yang cukup banyak (didominasi oleh koper Melvi pastinya!) tanpa life vest, dan masih car lag *halah* entah kenapa agak ngeri juga ya ceu naik ke atas jukung yang sempit, dan kalau membayangkan dengan kapal ini pula kita akan menuju Samudera Hindia buat berburu dolphin….hahahaha *ketawa stress*

Pelayaran pertama dengan jukung ini untungnya tidak sampai 10 menit (itupun kita berdua pegangan erat2 di pinggiran perahu XD) sampai lah di sepetak pantai pribadi milik Anak Abah dengan ‘landmark’ nya, dermaga. 😀

Anak Abah’s Creek *halah*

Ini loh yang namanya Jukung

And the view was…breathtaking

Pasir putih, laut jernih yang tenang, pantai yang teduh, pondok kayu, rumah pohon, tenda warna-warni…. ah, pictures would tell it better lah.. 😀

Tampak depan pondok Anak Abah. Foto diambil hari ke-3 waktu tenda2 sudah jauh berkurang sih.. tapi tetep rimbun nan adem ceu..

Abaikan Melvi, objek utamanya adalah tenda-tenda dibelakang. Kuning paling kiri itu tenda kami

Pondok Anak Abah biarpun sederhana tapi nyaman, ada kamar tidur, ruang tamu, dapur, kamar mandi, teras. Yang nginep di tenda pun ga perlu khawatir, disediakan alas tidur dan sleeping bag jadi ga perlu bawa sendiri. Kamar mandi? Dari cerita-cerita perjalanan ke Kiluan yang saya baca ada beberapa pondok yang kondisi kamar mandinya memprihatinkan, tapi disini ada 3 kamar mandi dengan kondisi yang OK kok. Air bersih? ada! segar banget lagi dan tinggal buka keran! jangan khawatir harus nimba sumur wahai kau anak-anak kota yang manja :D, tapi ya sadar diri yah.. berhemat! karena dipakai ramai2 dan pompanya pakai listrik dari genset, hanya dinyalakan dari jam 6 pagi sampai 6 sore. Yang gak ada di pondok itu cuma satu, sinyal!! 😀 operator yang jangkauannya paling kuat di Indonesia (dan yang di Karimunjawa masih bisa dapat sinyal 3G) di sini menyerah, sinyal SOS pun tidak ada :D. But that’s not even a problem, in fact it’s a plus! 😀

…dan memandang ombak di lautan yang kian menepi….

Sand, Sun, Secluded…Serenity

Karang kecil dengan pulau kelapa di depan itu namanya Bikini Bottom 😀 sungguh!

Satu dari sekian dikit (banget) foto kita berdua, courtesy of Kang Tatang. Punten kang, nyomot ti facebook KiluanDolphin =D

With the view like that, who would care about phone signal??!! Ya paling sebel karena gak bisa live tweet sambil pamer2 foto sih (sebel ga bisa bikin iri follower #eeeeaaaa)

Siang itu pondok sepi karena tamu-tamu yang lain masih menikmati Kiluan dari berbagai sudut yang lain, makan siang disambung snorkeling. Di sini snorkeling gak perlu jauh ke tengah laut, cukup di depan pondok dengan laut yang tidak terlalu dalam pemandangan bawah lautnya sudah bagus, walaupun menurut Kang Tatang sudah ada yang rusak karena bom ikan. Tapi konon di bikini bottom seberang itu tempat berkumpulnya koral dan ikan2 cantik, besok kita kesana!

Sempat agak mati gaya karena bingung mau ngapain lagi, akhirnya saya naik ke semacam saung gitu yang langsung nyambung dengan dermaga, sholat di sini sambil mendengar ombak dan menghadap ke laut….priceless :’)

Dari tepi dermaga…

Melvi memilih untuk ikut Kang Tatang menombak ikan, untuk makan malam 😀

Semakin sore, pondok semakin ramai, yeay! Tamu-tamu lain berdatangan dengan berbagai macam ceritanya soal Karang Pegadung, dolphin hunting, dan air terjun yang sayangnya gagal dicapai hari itu karena medannya yang berat. SKSD dimulai dan eh ketemu juga dengan salah seorang kaskuser yang sempat membalas ‘iklan’ saya :D. Si mas itu ikut rombongan fotografer yang sudah sampai sehari sebelumnya. Ada yang dari Jakarta, Bekasi, Bengkulu, Balikpapan, dan 1 bule dari Amerika – Dora. Yang paling saya ingat dari Dora adalah ceritanya tentang perjalanannya ke air terjun:

“Nobody told us that it takes a professional gear to reach that waterfall. Seriously you need rope, hooks and good shoes. You won’t go there with that sandal, don’t you? or for better don’t go there. I definitely enjoyed the ride to Pegadung, but to the waterfall…..though I deeply wanted it, I just couldn’t, we gave up” 

😀 Jiper juga dengernya, but let’s just seize the present since tomorrow is still far away (terjemahan: to waterfall or not to waterfall kumaha mood besok lah)

Menjelang senja, kami menyeberang ke Pulau Kelapa yang berhadapan langsung dengan pondok. Rombongan kami sekitar 12 orang oh tapi tenang, tidak naik jukung tapi naik kapal lain yang lebih besar.

Pondok – Pulau Kelapa hanya sekitar 10 menit, di Pulau ini terlihat beberapa tenda, tapi sepertinyanya jauh lebih terawat tenda-tenda kami di seberang :D. Niat awal kesini adalah minum air kelapa sambil melihat sunset dari balik pulau, tapi gak ada yang bisa manjat pohon dan cuaca agak mendung jadi duduk santai saja lah kayak di pantai. Tuker2an cerita sama teman2 baru, Inay yang hari itu entah kena kutuk apa, dari mulai Damri telat, sendal putus sampai BB dan kamera nyemplung di sungai berikut pemiliknya :D, cerita tentang Karimunjawa ‘dibarter’ dengan cerita tentang Wakatobi :).

Our Fellow Kiluan Traveler. Hasil karya kang Tatang juga, sumber: Facebook Kiluan Dolphin 😀

Sampai matahari benar-benar tenggelam kali bermain di sini, kembali ke Pondok disambut api unggun yang mulai dinyalakan, tamu2 yang mulai berkumpul di sekitarnya, dan makan malam yang masih dalam persiapan. Menu utama malam itu adalah ikan Paledang yang guede dan panjangnya hampir 1 meter, ikan tongkol dan beberapa jenis ikan lain hasil tangkapan sendiri. Tapi saya terlalu capek dan agak pening sampai2 gak lapar dan memilih untuk langsung masuk ke tenda dan tidur setelah mandi. Jadwal kami untuk besok adalah ke Karang Pegadung, Air Terjun, dan Laguna, full day trekking yang sepertinya, so enjoy the dinner Mel, let me just call it a day and wait for you at the  tent.

…..to be continued…..

PS: Menurut Melvi, ikan Paledangnya enak banget dan cepat sekali habisnya 😀 (PPS: Buat Melvi hanya ada makanan yang enak dan enak sekali. haha)

 
 

One response to “Kiluan Part II! : Tanjakan, Turunan, Kelokan Menuju Kiluan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: