RSS

SAWARNA!!! Part 3: Berjalan di Hutan Lalu Belok ke Pantai

23 Apr

170411

Krik..krik..krik.. orkestra jangkrik masih bermain, bulan penuh masih menggantung (yes I’m so lucky bisa melihat purnama dengan taburan bintang yang pastinya susah sekali ditemui di Jakarta) saat kehidupan di guesthouse kami sudah dimulai, Jam 4 pagi! Agenda hari ini dimulai dengan melihat sunrise di Legon Pari dan untuk itu kami harus sudah berangkat segera setelah subuh.. *yawn*

Legon Pari adalah suatu laguna dengan pasir putih dan laut yang tenang, sehingga disini tempat terbaik untuk berenang di Sawarna. Para nelayan pun banyak yang melabuhkan kapalnya disini.

First thing first, question, Siapa yang trekking pagi2 buta ga bawa senter dengan bodohnya?????!!! SAYA!!! (_ _!) Well, saya pikir medan yang akan dilalui ‘seramah’ kemarin jadi tanpa senter pun it’s okey masih ada cahaya bulan, tapi ternyata saudara2.. I was so wrong…

Untuk menuju Legon Pari ternyata kita harus melewati pematang sawah, perkebunan, dan.. hutan!! medannya? Tentu saja tanah. Licin? Hoho Pastinya!! =D tapi apakah datar2 saja?? Haha I wish!! Di beberapa tempat jalannya menanjak, dan yang saya maksud adalah tanjakan dengan sudut kemiringan hampir 80 derajat! *ngos ngos ngos* itu saja kami sudah dibilang beruntung oleh bapak yang memandu kami karena semalam tidak hujan jadi jalanan mudah dilalui..

Setelah setengah jam lebih berjalan, 1 kali terjatuh, dan entah berapa liter keringat terbuang… akhirnya mulai terdengar deburan ombak.. makin dekat,, makin dekat,, satu belokan lagi and voila!! Pantai Legon Pari!! Tapi belum sempat lihat mana lagunanya, kami berjalan (lagi!) menyusuri pantai, mencari spot yang menurut bapak pemandu disitu lebih baik untuk melihat sunrise, dan sampailah kami di pantai Karang Beureum

Entah karena memang sedang pasang atau memang seperti itu, Karang Beureum ini ombaknya lebih besar daripada Ciantir, pantainya pun lebih sempit dan pasirnya lebih kasar.

Sambil (lagi2) menunggu munculnya matahari, sarapan dulu..  This is it, mie instan pinggir pantai ala Chef Marsad =D

Langit menjelang fajar,, ada pink.. ada kuning..

Dan..dan..dan.. Hello Again Paman Matahari…..

Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri pantai menuju ke arah Tanjung Layar (lagi) lalu ke Ciantir dan kembali ke penginapan. Kami harus sudah pulang sebelum pukul 12 supaya cukup waktu untuk sejenak mampir ke pantai Karang Taraje. Legon Pari terpaksa dilewatkan kali ini, tapi biarlah, itu akan jadi alasan saya untuk kembali. =)

Dan, ternyata petualangan saya pagi tadi mendaki gunung lewati lembah untuk menuju Legon Pari belum berakhir, justru petualangan yang lebih dahsyat baru akan dimulai!! Seperti yang saya bilang, menurut pengamatan saya kemarin *jieh*, kontur pantai dari Ciantir ke arah Tanjung Layar (ke arah timur) semakin lama semakin berbatu. Karang Beureum ini berada di sebelah timur dari Tanjung Layar, maka yang saya temui sepanjang perjalanan adalah batu karang… dimana2 karang.. dari yang tajam sampai yang halus, besar sampai kecil. Maka ‘perjalanan pulang menyusuri pantai’ sungguh tidak semanis kedengarannya, perlu ekstra hati2! Tapi sungguh pemandangannya tidak bisa dilewatkan begitu saja.

Walhasil akibat keasikan foto2, saya terpisah dari bapak pemandu dan rombongan =)). Untung Mas Marsad dan Mas Dareng masih ada di belakang karena sebelumnya membersihkan sisa2 sarapan kami.

Perjuangan darah dan keringat kami menyusuri karang kemudian terhenti disini.

Menurut mas Marsad, biasanya untuk ke Tanjung Layar bisa melipir tepi karang itu, dan melihat tempat yang dinamakan Tapak Si Kabayan. Tapak si Kabayan konon adalah batu yang berbentuk seperti tapak kaki manusia. Saat itu, laut sedang pasang, terlalu berbahaya untuk berjalan melalui tepi karang, maka kami harus naik ke perbukitan, dan halo tanjakan tanah dengan kemiringan hampir 90 derajat!! *___*

Setelah tanjakan, yang disusul dengan turunan curam dari batu karang, akhirnya sampai di sisi lain karang

Selesai kah trekking menggilanya? Oh ternyata BELUM! This what we found ahead..

Ga ada jalan lain yang bisa dilewati, jadi akhirnya melipir karang. Kedalaman airnya sih sebenarnya cuma sebetis tapi disebelah kanan dan pijakan kami itu karang yang liciiin, dan sebelah kirinya langsung laut dengan ombak yang ga santai! kalau menerjang bisa basah seluruh badan.

Sampai di Tanjung Layar lagi, balai2 warung sederhana dan segelas teh dingin, rasanya udah kaya di lobi hotel bintang 5. Arta, satunya2 peserta pria di tur kali ini, bertanya ‘Are we still alive?!’ haha dan saya jawab, ‘yes you’re still very are, but I don’t know about me. How can I sure I’m still alive while my idea of heaven is already here, now’ dan dia bales aja loh dengan ‘you’ve got the point.’ =D

Pembicaraan ‘aneh’ tadi terjadi karena di depan kami, Tanjung Layar yang sama dengan yang kami lihat kemarin, tapi seolah2 Tuhan sudah mem-photoshop-nya, menambahkan sedikit biru di laut dan langit, menggeser matahari ke posisi yang lebih pas sehingga hasilnya.. amazing..

Kemudian lanjut ke Pantai Ciantir, yang juga berkali-kali lipat lebih cantik..

Saat itu saya berharap bisa berjalan seperti kepiting, miring, biar ga lepas2 pandangan dari laut…

Akhirnya, kami pun tertahan lama di Ciantir karena foto2 lagi…

Belum mau pulang… sungguh ingin sekali duduk2 disini dan tidak melakukan apapun.. =)

Well, tapi kalo kata abang Buble ‘the days were slipping fast, good things never last’  dengan berat hati, kembali ke penginapan.

Jam 11, all packed, sudah makan, sudah pamitan, dadah Sawarna,, saya janji akan kembali. Eh tapi baru  jalan beberapa ratus meter, ketemu lagi another tanjakan maut, dan ‘si peri’ ini (lagi2) ga kuat naik.. haha yuk jalan kaki lagi yuk.. Tapi rupanya Tuhan belum bosan memberi kami ‘bonus’ tak terduga, kalau kami tidak jalan kaki mungkin kami tidak akan menyadari ini, satu titik dimana kami bisa melihat Sawarna terbentang dari Tanjung Layar hingga Ciantir dalam 1 frame.

That was my bonus, the last shot of Sawarna, a great closing indeed =)

Keluar dari Sawarna, seperti janjinya, Mas Marsad membawa kami mampir ke Karang Taraje. Karang Taraje kira2 15 menit dari Sawarna menuju Bayah, sesuai namanya, disini banyak karang, hehe walaupun saya tidak lihat tuh mana yang menyerupai tangga (taraje dalam bahasa sunda). Lautnya biru sekali, ombaknya kencang tapi segera terpecah oleh karang.

Kami tidak lama disini, huaaah… benar2 sudah saatnya pulang.. =(

Sepanjang jalan Sawarna – Pelabuhan Ratu, kami masih banyak disuguhi oleh pemandangan yang menakjubkan, duet maut pantai dan perbukitan. Beberapa diantara pantai2 yang kami lihat itu konon adalah private beach!

Gosh, life is soooooo great for some people!!

Kami berhenti sejenak di Karang Haur untuk sholat dan membeli oleh2.. Es kelapa sekantong plastik harganya 10ribu masaaaa!!! Ini pemerasan!!

Berhenti sebentar lagi di Cisolok, untuk membeli jambu bol dan sawo.. hehe

Pemberhentian berikutnya kira2 pukul 17.00 di Rumah Makan Palagan – Sukabumi, dan disini ga sebentar, hehe. Selesai makan, ternyata mobil mengalami sedikit gangguan. Hooo pantas saja dari tadi ada bunyi2 derik aneh dari belakang mobil. Lepas maghrib mobil selesai diperbaiki tapi ban belakang sebelah kiri perlu tambah angin. Tidak mau mengambil resiko beban yang terlalu berat, kami para wanita memutuskan untuk menunggu saja disana..

Jam 11 malam… akhirnya bisa menjatuhkan diri ke tempat yang baik dan benar… kasur!! Bukan lagi batu karang, atau tanah becek.. =P

Fiuh, akhirnya.. bisa menuntaskan rasa penasaran akan Sawarna, dapat teman2 baru, dan inspirasi pastinya! Salah satu teman seperjalanan saya, Ibu Yati (Ibu yang memakai baju pink – kuning dan jilbab biru di foto atas), she’s a truly traveler! seharusnya dia juga menulis buku seperti Trinity ‘The Naked Traveller’ karena beliau juga sudah berpetualang kemana2, beliau juga anggota tetap Komunitas Jelajah Budaya, Sahabat Museum, dan banyak lagi. Sambil menunggu sunset di Tanjung Layar kemarin, dia berkata seperti ini ke saya ‘Neng, duit mah ga dibawa mati, jangan takut untuk jalan-jalan, apalagi kalo kamu memang hobi. Salah satu cara mensyukuri ciptaan Tuhan menurut saya ya begini, jalan2 melihat ciptaannya.’ Sebenarnya ucapan macam begitu sudah pernah saya dengar sebelumnya, dari teman saya (hey kang.. i know u’ll read this haha) tapi kok kayaknya diucapkan oleh si Ibu lebih mengena yah.. haha well baiklah, mari menabung….buat jalan2 =P. Oya, di ujung nasihatnya si ibu menyuruh saya jalan2 ke,,,, Pink Beach – Pulau Komodo.. duh bu.. doain rejekinya nyampe yah,,, hehe.. amien!

Dan Sawarna, sungguh saya akan kembali ke sana nanti.. masih hutang belum liat Legon Pari sama Tapak Si Kabayan kan… Saya sudah membuat selfnote hal-hal yang harus diperhatikan bila kembali kesana

Sandal gunung is a must!! sandal karet berlogo buaya andalan itu sungguh tidak reliable untuk medan yang licin.

Sinyal hp yang paling kuat disana adalah I-s*t, BIS BB-nya bisa nyala loh.. T-S*l masih dapat sinyal tapi lemah, lainnya.. flat.. -___-“

Untuk yang ingin merasakan petualangan di Sawarna seperti yang saya alami, paling enak sih menggunakan kendaraan pribadi atau ikut travel, ini link travel yang membuka perjalanan ke Sawarna:

http://www.sawarnatravel.com/tour/sawarna-easy-tour.html

Atau ‘pantau’ aja akun2 jalan2 di FB dan twitter, yang saya tahu sih di FB ada Pesona Jawa dan Just Traveler, di twitter ada @Backpackseru. Hehe,, siapkan diri untuk menghadapi godaan yah.. Hoho

Tapi kalau mau naik kendaraan umum pun, ga susah2 banget kok.. Saya sih lebih merekomendasikan lewat jalur Bogor – Sukabumi – Sawarna. Naik bus umum dari Jakarta, sampai ke Terminal Baranang siang – Bogor, kemudian dilanjutkan dengan bus ke Terminal Pelabuhan Ratu. Sampai terminal Pelabuhan Ratu naik elf yang menuju Bayah, turun di pasar Bayah lalu dilanjutkan naik ojek ke Sawarna (yeah… a looooong way to go, but it all would be paid when you get there)

Untuk pilihan waktu terbaik, menurut guide lokal, adalah bulan Maret hingga Juli, saat itu juga banyak surfer bule yang melancong ke Sawarna.

Jadi, sampai nanti Ciantir… tetaplah bersih.. sunyi… dan damai..

somehow I hope that paradise would still hidden =)

Ambareeta

 
 

One response to “SAWARNA!!! Part 3: Berjalan di Hutan Lalu Belok ke Pantai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: