RSS

SAWARNA!! Part 2: From Rise To Rest

22 Apr

160411

Sekitar jam 4 pagi,sudah memasuki daerah Sukabumi, mesin mobil tiba2 mati, saya yang sudah tidur kebangun karena bau seperti karet terbakar dari bagian belakang mobil.. Ternyata kami berada di tanjakan yang terjal, mobilnya ga kuat naik dan sempat ga sadar ada tanjakan karena gelap total diluar! Akhirnya kami semua terpaksa keluar, blimey it’s a blessing in disguise! Diluar, BINTANG!!! Banyaaaaaaaaaaak banget… *___* belum pernah saya liat langit dengan bintang sebanyak itu! Akhirnya mau jalan aja bingung, antara harus liat ke bawah nyenterin jalan biar ga jatuh, dengan keinginan untuk terus2an lihat ke atas.. Sampai di jalan yang lumayan landai, sebagian penumpang dipersilahkan naik lagi ke mobil. Loh kok Cuma sebagian? Iya karena belum jelas apakah ada kerusakan jadi sementara beban mobil harus dikurangi. Terus yang sebagian lagi kemana?? Naik pick-up pembawa sayur yang kebetulan lewat.. =))

Tapi ternyata dari ‘tanjakan maut’ itu sudah dekat dengan pemberhentian kami berikutnya, Puncak Habibie, suatu tempat di Cisolok – Sukabumi, yang dinamakan demikian karena konon bukit dimana kami berada saat itu adalah milik Bapak BJ Habibie.. hooo.. Di Puncak Habibie berjejer warung2 dimana kita bisa ngopi2 dan nge-mie sambil leyeh2 di balai2 bambu, menunggu sunrise. Pemandangan yang terhampar didepan mata adalah Pantai Cibangban-Pelabuhan Ratu dari atas bukit =)

Setelah kurang lebih 1 jam menunggu,, finally slowly but sure,,

Halloooooo Paman Matahari…..

Beautiful…

Saat terang terlihat bahwa jalan yang kami lalui sebelumnya, di ‘tanjakan maut’ dan sekitarnya itu, ternyata dibelakangnya laut dan kanan kirinya perbukitan.. wow!

Sudah kenyang, sudah terang, pukul 6 kami melanjutkan perjalanan. Woohoo!! Kurang lebih 1 jam lagi, SAWARNA!!

Akhirnya, setelah 10 jam perjalanan.. sampai di  guesthouse..

Di guesthouse ini kami menempati 4 kamar di lantai atas, lantai bawah ditempati oleh sang pemilik rumah. Di Sawarna pilihan akomodasinya ya rumah penduduk, saya sempat melihat beberapa penginapan saat berjalan ke pantai tapi itu pun bisa dihitung jari. Guesthouse kami terletak di Kampung Cikembang, Desa Wisata Sawarna, letaknya agak jauh dari pantai, tapi begitu buka jendela kamar pun pemandangannya bikin mata seger begini..

Setelah mandi dan sarapan kami langsung memulai petualangan, dibuka dengan Gua Lalay! Dari penginapan kami naik mobil dulu, baru dilanjutkan dengan berjalan kaki. Hehe ga kebayang kalau harus berjalan kaki dari penginapan,, jauuuuh, medannya menanjak tinggi,,tinggi sekali, ditambah cuaca pada hari itu, cerah ceria!! (baca: puanas pol!). Nah, itu yang lagi2 membuat jawdropping, langit Sawarna hari itu biruuuuuu bersih sekali tanpa awan.

Desa yang memang sudah cantik tampak makin menawan, mata termanjakan selama perjalanan ke Gua Lalay, melewati sawah, rumah penduduk, hutan, dan yang tidak mungkin tidak dilewati kalau anda berpetualang di Sawarna,,,JEMBATAN GANTUNG! XD.

Belum ke Sawarna kalau belum lewat jembatan gantung. Kalau ke Sawarna tidak menggunakan mobil pribadi, baru sampai pintu gerbang desa saja sudah disambut dengan jembatan gantung yang hanya bisa dilalui oleh orang dan sepeda motor. Karena kami menggunakan mobil pribadi kami tidak lewat situ (eh apa lewat tapi saya ga tau yah? Baru bangun pas sampai depan guesthouse =P) tapi tetap saja kemana2 nanti harus lewat jembatan2 gantung yang lain. Jadi untuk yang takut ketinggian, segeralah temui ahli yang bisa menyembuhkan phobia anda, sungguh saya tidak merekomendasikan untuk tidak mengunjungi Sawarna cuma karena takut jembatan gantung.. =D Setiap melewati jembatan gantung (bolak balik) pengunjung dipungut biaya retribusi Rp. 2000 untuk perbaikan dan perawatan jembatan

And here it is, pintu Gua Lalay..

Gua Lalay, dinamakan demikian karena di gua ini (katanya) terdapat banyak kelelawar (Lalay dalam bahasa sunda) tapi waktu saya kesana ga ketemu 1 pun tuh, cuma tercium bau2 guano (kotoran kelelawar). Menurut mamang guide kami, kelelawar2 itu masih ada, tapi mereka ‘bermigrasi’ ke bagian gua yang lebih dalam karena banyak orang dari Suku Badui yang memburu mereka untuk dimakan.

Bagian dalam gua Lalay adalah sungai yang mengalir dengan dasarnya lumpur, di beberapa bagian tinggi air mencapai paha, licin bila memakai alas kaki, jadi sebaiknya ditinggalkan di pintu gua saja.. tapi hati2 kalau diambil orang.. *kisah nyata =D* Lumpur yang berasal dari suatu bagian gua sering diambil masyarakat untuk dimanfaatkan sebagai pupuk, sungai dalam gua itu bening looh..

Dengan dipandu lampu petromaks dari mamang guide dan senter yang memang perlengkapan wajib, untuk pertama kalinya saya lihat stalagtit dan stalagmite dengan mata kepala sendiri =D. Wow! Di beberapa stalagtit terlihat jelas guratan2 yang menandakan proses pembentukannya bertahap dan memakan waktu ratusan tahun untuk membuat setiap sentinya.

Memang bukan caver professional, kurang lebih 15 menit menjelajahi gua, semangat untuk menjelajahi gua sudah berkurang, bukan apa2, tapi karena medannya yang semakin sulit, harus naik ke gundukan lumpur yang luicin.. Masih menurut mamang guide, gua ini pernah ditelusuri oleh Mapala UI *uhuk* hingga 2 hari namun belum juga menemukan ujungnya sehingga mereka memutuskan untuk kembali.

Keluar dari gua, kembali ke penginapan, istirahat sebentar sambil nunggu adem buat maen ke pantai.. =)

Jam 2, matahari sudah mulai berkurang moodnya, awan2 pun mulai muncul, saatnya menjemput tujuan saya jauh2 datang kemari,, PANTAI!!

Tujuan pertama kami adalah Pantai Ciantir, pantai pasir putih berombak besar dengan suasana tenang yang membuat bule2 surfer itu rela jauh jauh ke Sawarna. Untuk ke Ciantir dari guesthouse kami harus berjalan kaki, tapi ga sejauh waktu ke Gua Lalay, lewat pematang sawah, perkebunan kelapa, singkong dan ya lagi2 jembatan gantung =D

10 menit berjalan kaki, sampailah kami di Ciantir.. WOWWW!!! All that 10 hours on the road are SO worth it!!!! Pantai.Pasir.Putih…

Hamparan pasir putih dan halus sepanjang kurang lebih 3 km, terlihat seperti cekungan tak berbatas yang dipagari perkebunan kelapa dan perbukitan..

Satu hal yang susah ditemui di tempat lain adalah, pantai ini sepiiiiiii… it was weekend, tp orang yang saya lihat di pantai (di luar rombongan tur yah) bisa dihitung dengan jari.. bersiiiih sekali, mungkin karena belum banyak orang berkunjung ke sini, jangankan berkunjung, eksistensinya saja banyak yang tidak tau.

Puas main dan foto2, kami meneruskan perjalanan menyusuri pantai, menuju Tanjung Layar yang merupakan landmark dari Sawarna. Kontur pantai Ciantir menuju Tanjung Layar sepertinya semakin banyak karang (dan saya membuktikan hal itu keesokan harinya)

and here it is.. 2 karang besar  berbentuk menyerupai layar yang dengan perkasa menahan dahsyatnya hempasan gelombang Samudera Hindia.. Tanjung Layar!! =D

Karena ombak dipecah oleh karang-karang besar itu, air laut disini lebih tenang daripada di Ciantir. Jarak dari pantai ke karang layar itu kurang lebih 25 meter, saat sedang surut terlihat jelas dasar laut berupa karang2 datar dengan air laut menggenangi sela-selanya seperti kolam-kolam kecil. Saat kami kesana, air laut sedang pasang, tinggi air mencapai hampir sepinggang, karang2 juga agak licin..

Tanjung Layar konon tempat terbaik untuk melihat sunset di Sawarna, mungkin karena itu tempat ini lebih ramai dibandingkan pantai Ciantir. Eh bukan cuma sunset yang kami dapat, tapi juga pelangi.. =) Disini pasir pantainya lebih kasar, banyak terdapat sisa-sisa terumbu karang yang terbawa ke pantai, dan bebatuan karang.

Tanjung Layar di waktu senja lebih cantik, hampir saja ga dapat fotonya karena prosesnya cepat sekali..

Dan  akhirnya.. Sunset..

Berakhirlah petualangan hari ini di Sawarna. Kembali ke guesthouse Ibu pemilik rumah sudah menyiapkan makan malam dengan menu ikan entah apa jenisnya yang pasti besar, sedikit durinya dan hasil tangkapan sendiri.. Enyaaaaaakkk…

What a day!! Kalau masih menjalankan misi-21, saya dapat banyak sekali hal yang New, Awesome  dan Sinless hari ini.. Dari mulai matahari terbit hingga terbenam, diakhiri dengan makanan enak dan ketawa-ketiwi dengan teman2 baru.. Life is good.. =)

Ambareeta

to be continued…

SAWARNA! Dimana Saya Berjalan di Hutan Lalu Belok ke Pantai

 
 

One response to “SAWARNA!! Part 2: From Rise To Rest

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: